Flight to LCCT Kuala Lumpur

image

Fasten your seat belt

image

TWK Ikhsan Munawar

Suatu hari di bulan Mei, untuk kesekian kalinya saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Kali ini tujuannya negeri jiran, Malaysia. Bukan karena bertepatan dengan banyaknya tanggal merah tapi hanya karena tidak menyia-nyiakan tiket promo yang booking nya juga jauh-jauh hari. Maklum hobi lama mengincar sesuatu yang murah itu, tetap tumbuh mendarah daging tidak bisa hilang begitu saja. Trip ini saya pergi bersama seorang guide profesional. karena begitu nge fans nya saya sama beliau jadi tidak kena charge (red:cas) oleh guide yang berperawakan serius kacamataan berbadan tambun ini. *peace

Karena check-in nya terpisah, saya harus tiba lebih dulu di bandara. Secara ini Flight Internasional.  Tidak ada yang spesial di proses check-in. Hanya saja pengalaman menjadi sedikit ganjil, karena biasanya saya sebagai pengantar jika ada teman, saudara, dan handai taulan yang berangkat. Memamfaatkan Pass ID bandara berlabel kan tanda X, artinya bisa kemana saja, dengan menyapa petugas yang berkerja di bagian operasional bandara sambil melenggang begitu saja, tapi tetap, saya juga harus melewati setiap pemerikasaan seperti penumpang pada umumnya.

Penerbangan kami diperkirakan berangkat pukul 13.00, namun satu jam sebelum itu kami sudah standby di waiting room. Terbang bersama maskapai Low Cost Carrier (LCC) terbesar di Asia Tenggara bukan yang pertama bagi saya pribadi. Saya pernah mencoba terbang bersama jenis pesawat dan maskapai yang sama walaupun perjalanannya dalam lingkup domestik. Biasanya In Flight setelah take-off yakni pesawat sudah berada di ketinggian jelajahnya dan lampu tanda penggunaan safe belt sudah bisa dibuka, saya akan memilih duduk di belekang, di dekat jendela. Bela-belain kesitu buat spot motret doang. Berikut ini hasil jepretan ala kadarnya :

image

image

wingtip

image

WingTip among of blue sky

image

narsis berjamaah

image

AirAsia Seat

Jalur penerbangan keberangkatan dari Aceh berada di Radial 098 dari point Bandara SIM ditarik garis lurus menuju Medan, sedangkan jalur kedatangan pesawat lainnya berada di Radial 123 garis lurus menuju Aceh. Sehingga posisi pesawat yang terbang mengikuti radial 098 tersebut tepat diatas bibir pantai timur meliputi pidie, lhokseumawe dan medan.

image

Pantai Timur Aceh

image

Dua kapal Besar Melintasi Selat Malaka

Setelah perjalanan di udara selama satu jam, pesawat bersiap turun dari ketinggian jelajahnya di FL 310. Tampak dari jendela tempat saya duduk terlihat pesawat melawan arus awan yang bergerak cepat berlawanan dengan arah hidung pesawat sehingga beberapa kali pesawat mengalami guncangan hampir 30 detik lamanya sampai pesawat akhirnya bisa bergerak turun melewati aliran awan yang bergerak cepat tersebut. Masih terdengar suara-suara penumpang beristighfar, memohon keselamatan dari guncangan yang tak kurang dari semenit lamanya. Beberapa  saat sebelum landing hamparan kebun kelapa sawit membentang luas di negara ini. Saya pun mengernyit pantas saja banyak investor perkebunan khususnya kelapa sawit berinvestasi di pulau sumatera dan kalimantan.

image

Kebun Sawit sebelum Approach

Pesawat ini berjenis Airbus A320 milik maskapai LCC AirAsia malaysia, karena merupakan Maskapai LCC terbesar di Asia sehingga Airasia beserta penerbangan Budget airlines lainnya landing dan take-off di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Bandara LCCT bersebelahan dengan Bandara Kuala Lumpur International Airport. Di bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) tempatnya maskapai Internasional mendaratkan dan memarkir pesawatnya seperti Garuda, KLM, Singapore Airlines dll. LCCT dibuka pertama kali pada tahun 2006, Terminal dan Apron nya di disain khusus untuk model bandara Low Cost Carrier.

image

Sarang AirAsia di LCCT

Hal yang ganjil di bandara ini adalah tidak ada AeroBridge atau moncong gajah yang menghubungkan pesawat dengan terminal, juga tidak ada kereta api atau kendaraan lain sehingga setiap penumpang setelah turun dari pesawat harus berjalan kaki ratusan meter menuju terminal. Yang paling mencengangkan kan adalah panjang liuk-liuk antrian imigrasi hampir ratusan meter juga jika ditarik garis lurus.

Airasia adalah konsumen terbesar jenis pesawat Airbus menjadikan LCCT sebagai Hub sentral untuk semua jenis pesawatnya, mulai dari AirAsia malasia, dan Malindo Air. Maka kita akan melihat barisan pesawat berwarna merah seperti sarang semut di LCCT ini. Seperti yang saya sebutkan diatas, antrian imigrasi nya panjang sekali.. dengan antrian seperti itu otomatis objek mata memanandang beragam ras, warna kulit, style ada disini. Baru sadar ternyata saya satu pesawat dengan Gubernur Aceh yang semua keluarga nya berdomisili dan menjadi warga Malaysia. Hanya sang Gubernur yang bertanda kependudukan Aceh, Indonesia. Setelah dihadapan petugas Imigrasi, saya ditanya berapa hari dan tujuan apa, tahan dua jari telunjuk kiri dan kanan.. finally done..

Ternyata hari itu adalah hari terakhir LCCT digunakan untuk seluruh penumpang komersial AirAsia, besok nya akan dipindahkan ke bandara KLIA2 yang telah rampung pembangunannya. Selamat berpisah KLIA2..

Setelah shalat Ashar jemputan pun menunggu di depan terminal kedatangan..  perjalanan dimulai.. elus-elus dengkul..

(Bersambung..)

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s