F16 di angkasa Aceh

image

F16 skuadron udara 3 Iswahyudi

Cuaca kurang bersahabat pagi menjelang siang dan awan kelabu disertai hujan sedang mengguyur kota Banda Aceh. Sebanyak enam pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Udara 3 Iswahyudi menggelar latihan di sebelah barat dan selatan kota Banda Aceh, sekaligus merupakan latihan pengamanan Zona Ekonomi Ekslusif di selat Malaka. Kegiatan ini berlangsung mulai dari kedatangan pesawat supersonik tersebut pada tanggal 24 April sampai dengan 2 Mei 2014.

Sebelum mendarat di landasan pacu Bandara Sultan Iskandar Muda, ke enam pesawat tempur ini terlebih dahulu mendarat di Bandara Suwondo atau lebih dikenal dengan Polonia. Setidaknya jadwal rutin pengamanan Selat Malaka rutin dilakukan dari Bandara udara Suwondo. Latihan ini diberi nama Operasi Pertahanan Udara “Tangkis Sergap-14”. Kehadiran enam pesawat tempur ini akan menggetarkan bahana langit-langit Aceh, karena sangat jarang pesawat tempur mendarat dan melakukan latihan dari bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Banda Aceh. Seperti yang diketahui TNI angkatan Udara hanya memunyai satu pangkalan Udara di Pekan Baru untuk pulau Sumatera.

Pendaratan ke enam pesawat ini tidak secepat pesawat berbadan besar pada umumnya, pesawat membutuhkan waktu lebih lama pada saat menyesuaikan posisi pesawat mengikuti beberapa peralatan navigasi sebelum Touch Down atau disebut “Making Approach”. Padahal asumsi saya karena kecepatan F16 bisa melebihi 1 Mach yakni melebihi kecepatan suara, seharusnya Jet tempur mungil gesit dan aerodinamis ini dapat lebih cepat mencapai landasan pacu.

Pendaratan ke enam pesawat ini dibagi ke dalam dua kelompok. Empat pesawat diberangkatkan dari pangkalan udara Suwondo dengan Call Sign “DRAGON” menyusul 10 menit dibelakangnya dua F16 dengan Call Sign “viper”. Ada yang menarik dari pendaratan F16 ini. Ke empat pesawat pertama sempat melakukan “holding” atau berputar-putar di Gate Point yakni Point pesawat siap melakukan pendaratan dengan bantuan peralatan Navigasi. Alasannya adalah pilot pesawat militer ini mewaspadai cuaca disekitar bandara yang pada saat itu hujan dan jarak pandang  terbatas. Karena  pada saat itu pemandu lalu lintas udara menyebutkan jarak pandang Runway berdasarkan Automated Weather Observing Systems (AWOS) hanya berkisar 600 meter. namun setelah disadari secara visual jarak pandang ke arah utara bisa mencapai 3000 meter kemudian Pemandu Lalu Lintas Udara merevisi dan memberitahukan kecerahan cuaca semakin bagus untuk melakukan pendaratan.

Pada saat ke empat F16 ini landing, masing-masing pesawat mengeluarkan parasut sebagai bantuan brake system. Setelah berhasil Touch Down masing-masing pesawat F16 ini melepaskan parasut begitu saja, sehingga dua mobil dari Landasan Udara Blang Bintang menyisir mengumpulkan parasut tersebut, setelah ke empatnya memasuki Shealter.

Tentunya sebelum melakukan latihan di udara Aceh, seluruh Crew/personil penerbang harus melakukan briefing dengan petugas Pemandu Lalu Lintas Udara dan petugas Meteorologi Bandara Sultan Iskandar Muda. Dari pihak ATC akan memberikan info terkait trafik keberangkatan dan kedatangan, jam-jam sibuk penerbangan dan area yang akan digunakan. Begitu juga dari pihak Meteorologi memaparkan prakiraan cuaca satu hari ini, titik-titik awan, pergerakan angin serta prediski cuaca beberapa hari kedapan. Latihan ini menggunakan wilayah Barat sekitar 20NM-60NM, mulai dari R270-R215 dan di wilayah selatan R215-R175.

image

Hasil Briefing unit ATS

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s