Ayah

Terbayang wajahmu dalam hatiku, kau adalah bintang yang terindah.

Ayah.. aku ingat engkau mewajibkan aku dan adik mengaji di surau dekat rumah, kepada Kek Aji engkau mengamanahkan jika nakal pukul saja. Setiap pulang dari surau engkau sering menanyakan sampai mana pengajiannya.

Saat pertama kali aku kesekolah, engkau memilihkan sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang sedikit lebih jauh dari rumah, engkau tau aku masih cengeng sehingga di pelajaran pertamaku engkau menunggu dan memperhatikanku dari sudut jendela kelas. Namun aku mengecewakanmu, karena pindah ke sekolah negeri yang relatif lebih dekat dari rumah.

Aturan disiplinmu aku bangga kan sampai kapan pun, setengah jam sebelum magrib engkau tidak memperbolehkan kami diluar rumah. ketika magrib berjamaah, aku dan adik iqamah bergantian. Begitu pun makan malam, sudah menjadi kewajiban untuk makan bersama, duduk melingkar diatas panggung keluarga. Engkau menyuruh kami membantu Ibu menghidangkan makan malam, menyuruh salah satu diantara kami mengucapkan Doa Makan.

Setelah makan malam, engkau menyuruh kami belajar di Toko. Kami tak punya ruangan belajar sehingga meja kami belajar adalah meja yang Ayah gunakan untuk berbisnis setiap hari nya. Sesekali engkau mengecek apakah kami benar-benar belajar, kami tahu itu dari derap langkah kakimu mendekati tempat kami belajar, terkadamg engkau mengintip, memastikan anak-anakmu ini belajar.

Pada saat MTQ kecamatan di pesantren, Aku ingat engkau menonton dan duduk bersama bapak-bapak lain dengan bangga. Ketika aku berhasil mendapatkan juara Satu, di saat penyerahan Piala engkau tidak ada lagi ditempat dudukmu, aku berusaha mencuri pandang ke sekitar, tapi aku hanya melihat Ibu. Baru lah ketika merantau Ibu memberitahuku bahwa engkau menitikkan air mata bangga waktu itu.

Setelah tamat SD engkau menemaniku ke kota tetangga untuk seleksi masuk Pesantren Modern. Aku ingat pada saat tes membaca alquran kau memperhatikan di pintu ruangan, memastikan aku lulus di kelas inti. Itu hanya beberapa bulan, lagi-lagi aku justru mengecewakanmu. Dengan alasan cengeng aku pindah ke SMP tak begitu jauh dari rumah.

Aku ingat juga karena salah faham di SMP, seorang guru menamparku. Ketika engkau tahu, engkau marah, engkau tak terima anakmu diperlakukan seperti itu, sehingga engkau datang ke sekolah meminta penjelasan dari guru bersangkutan dan kepala sekolah.

Ketika SMA di kota besar, setiap sabtu malam adalah jadwal ayah dan ibu nenghubungiku melalui telpon milim Opung, nenek pemilik tempat aku ngekost. Tak pernah aku merasa kekurangan jajan, walaupun demikian aku tidak boros, setiap bulannya masih bisa aku menabung sedikit, karena dari kecil engkau mengajarkan kami untuk berhemat. Ketika makan bersama engkau sering mengingatkan ayah ibu berjualan seharian hanya mengharapkan untung Rp.50.

Ketika aku bekerja di Sulawesi, aku mengirimkan peci kebangsawan masyarakat bugis, kata ibu engkau sangat senang dan sering menggunakan peci itu bepergian sampai sekarang.

Terima kasih ayah, kau ajarkn aku hidup.
Terimakasih kau ajarkan aku tegar

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s