Keben, lumbung Padi di Gayo

image

Gambar diatas adalah lumbung padi tradisional masyarakat Gayo, tepatnya di desa Bamil, Nosar Kec. Lut Tawar, Kab. Aceh Tengah, Kearifan lokal ini disebut “keben” (red: Gayo). Keben sebagai wujud lumbung keluarga kini nyaris punah dalam kehidupan masyarakat Gayo. Menurut penuturan Nenek saya paska Indonesia merdeka hampir setiap keluarga di dataran tinggi Gayo memiliki bangunan penyimpan padi ini.

Gambar keben diatas merupakan lumbung padi keluarga saya turun temurun. Kini bangunan untuk menyimpan cadangan pangan itu hanya bisa ditemukan di beberapa desa saja, padahal lumbung keluarga adalah kearifan lokal sebagai langkah antisipasi mengatasi rawan pangan. Saat ini keberadaan “keben” nyaris hanya tinggal nama. Bahkan generasi saya saat ini, apalagi yang lahir dan besar bukan di pedesaan tidak nengetahui arti keben itu. Sungguh miris..

Khususnya di Gayo, sebahagian besar bahan pangan beras didatangkan dari kabupaten pesisir Aceh. Ini dipengaruhi kontur tanah di pegunungan pada umumnya. Walaupun demikian topografi di Gayo masih menghasilkan varietas padi lokal atau di Gayo Beras Kampung ini disebut “Oros Kabayakan”. Kebayakan merupakan nama desa di pinggir kota Takengon. Bicara kualitas tak diragukan lagi, beras putih bersih ini dihargai mahal karena memang memiliki citarasa spesial. Karena perkembangan areal sawah semakin menyempit menjadi pemukiman disamping itu masyarakat di desa lain sering memoergunakan untuk menanam tanaman holtikultura musiman. Wah..saya jadi tidak konsen ngomongin Keben nih..🙂

Dengan adanya keben, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa terpengaruh fluktuasi harga pasar. Namun, fungsi lumbung kian menghilang. Hal ini disebabkan ada perubahan sosial, seperti teknologi produksi, pengolahan hasil, dan distribusi hasil pertanian. Masyarakat cenderung langsung menggiling hasil padi ke tempat penggilagan padi kemudian hasil berupa beras tersebut disimpan di gudang penggilingan padi. Sehingga secara tidak langsung mematikan fungsi keben.

Keben sebagai lumbung pangan tradisional nampaknya belum dipandang penting oleh masyarakat maupun pemerintah Kab. Aceh Tengah. Padahal lumbung pangan tradisional ini merupakan kearifan lokal warisan nenek moyang bangsa Gayo kini nyaris punah. Karena itu diharapkan kesadaran masyarakat dan pemerintah Kab. Aceh tengah harus mulai mempertahankandan memperhatikan keben ini. Seperti halnya kearifan lokal lainnya seperti “Resam Munoling” yang tahun lalu kembali di semarakkan.

Sedikit tentang Resam Munoling adalah tradisi masyarakat di Gayo yang bahu menbahu seluruh warga desa tua muda memanen padi di musim panen.

Disamping itu fakta sejarah seharusnya mengingatkan kita semua agar jangan sampai keben ini hilang begitu saja seperti perumahan tradisional di Gayo. Di desa Nosar sekitar tahun 50-an terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan hampir semua Umah Pitu Ruang, rumah tradisional masyarakat Gayo.

Kearifan lokal dalam wujud “keben” ini memberikan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat terutama pada saat musim kemarau. Dengan menghidupkan kembali kearifan lokal itu masyarakat adat di Gayo tak akan resah ketika terjadi gejolak ketika terjadi gejolak harga bahan pangan khususnya beras.

Posted from WordPress for Android

2 pemikiran pada “Keben, lumbung Padi di Gayo

  1. aku selalu suka dengan Gayo atau Takengon… alamnya indah, potensi wisatanya luar biasa… ada sejarah, alam, budaya sampai kuliner, makanya ga abis2nya nulis Takengon

    • justru itu saya malu sama mas sendiri, seharusnya saya yang lebih banyak mempublikasikan tanah kelahiran saya. *senang punya teman blogger seperti mas Danan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s