Sebuah Ketulusan

Pagi ini ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Menjamurnya acara infotaiment tentang artis gosip selebritis dan sebagainya, hampir mengisi program pagi hampir semua stasiun televisi di waktu yang sama. Isu yang di expose semua sama, bergantung momen hebohnya apa sehingga setiap stasiun tv seperti berlomba-lomba memberitakan dan menceritakan kisah pilu, sensasi dan konflik pribadi si public figure.

Bagi saya pribadi gerah dengan program seperti itu, karena sudah terlalu berlebihan dalam pemberitaannya. Bukan wawasan atau ilmu baru yang saya dapatkan, tapi malah menyimak sensasi objek berita yang didramatisir dan dibesar-besarkan. Mungkin stasiun televisi menilai ini acara yang disukai oleh pemirsa dirumah khususnya ibu-ibu dirumah tapi bagaimana anak-anak nya, tentu tidak banyak hal positif yang diperoleh.

Namun berbeda dengan pagi ini, Sebuah infotaiment di salah satu stasiun televisi swasta menampilkan sepasang keluarga muda yang baru saja melangsungkan pernikahan. Saya ikut bertanya artis mana lagi ini, tak heran saat ini untuk menjadi artis aneh-aneh cara yang ditempuh. Si istri ditanya tentang ketulusan suaminya menjadikannya sebagai istri. Hal menariknya adalah proses perkenalan mereka hanya beberapa hari saja kemudian si suami langsung melamar istrinya.

Cerita seperti ini sering kita dengar tentunya, namun ada sesautu yang luput dari perhatian saya, ternyata si istri ini punya cacat fisik yakni kedua tangannya tidak senormal orang biasanya, kedua tangannya kecil dan berukuran sangat pendek. Pantas saja media ini memberitakan sisi lain apa yang menjadi alasan pria atau suaminya yang normal mau meminang istrinya dalam keadaan fisik seperti diatas. Jawaban si suami membuat saya kagum, si suami mengatakan bahwa setiap orang memiliki kekurangan, sebelum meyakinkan kekurangan istrinya dengan segala konsekuensi apapun, si suami terlebih dahulu menyadari kekurangan dirinya.

Tidak hanya itu si istri mengagumi karakter suaminya ini, menurutnya suaminya ini selalu berpandangan positif dalam masalah dan menilai apapun. Karakter ini yang saya yakini mulai sangat jarang ada pada masyarakat kita, padahal kita punya panutan yaitu Rasulullah SAW yang pribadinya merupakan paket komplit untuk diteladani.

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s